BAB
II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian Jasa
Jasa
sebagai proses dari pada produk, dimana suatu proses melibatkan input dan
mentrasformasikan sebagai output. Dua katagori yang diperoses oleh jasa adalah
orang dan objek. Sedangkan definisi jasa menurut Zeithaml dan Berry (Arief, 2007:11),
“jasa dianggap sebagai tindakan proses dan tampilan.”
Secara
umum Menurut Zeithaml and Berry (Arief, 2007:19)
jasa mempunyai beberapa karakteristik khusus yang berbeda dengan barang,
yaitu tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan antara proses produksi dengan
konsumsi, mempunyai tingkat variabel yang tinggi, tidak dapat disimpan dan
tidak menyebabkan suatu kepemilikan.
2.2
Konsep Pengembangan Pola Pelayanan
Keberhasilan
program pelayanan tergantung pada penyelarasan kemampuan, sikap, penampilan,
perhatian, tindakan, dan tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Keberhasilan
dalam mengembangkan dan melaksanakan pelayanan tidak terlepas dari kemampuan
dalam pemilihan konsep pendekatannya
2.3
Pengertian Pelayanan
Menurut Tjiptono
(2002:6), “pelayanan adalah setiap kegiatan dan manfaat yang dapat diberikan oleh suatu
pihak ke pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak perlu berakibat
pemilikan sesuatu”.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
pelayanan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada
orang lain yang tidak berwujud dan tidak berakibat pada pemilikan sesuatu pada
jual beli barang-
atau
jasa sehingga orang tersebut memperoleh sesuatu yang dinginkannya.
2.3.1
Pengertian Kualitas Pelayanan
Berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukurannya
bukan hanya ditentukan oleh pihak yang melayani saja tetapi lebih banyak
ditentukan oleh pihak yang dilayani, karena merekalah yang menikmati layanan
sehingga dapat mengukur kualitas pelayanan berdasarkan harapan-harapan mereka
dalam memenuhi kepuasannya. Menurut Wyckof
(Arief, 2007:118),”Menyatakan bahwa
kualitas Pelayanan adalah tingkat keunggulan yang di harapkan dan pengendalian
atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.”
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan
bahwa kualitas jasa pelayanan dapat diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan. Serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan.
2.3.2
Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas
Pelayanan
Menurut Nasution (2008:47) secara
garis besar terdapat dua jenis kulitas layanan yaitu:
1. Kualitas layanan internal
Kualitas layanan internal berkaitan dengan interaksi jajaran pegawai pe-
rusahaan dengan berbagai fasilitas yang tersedia. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas pelayanan internal, antara lain:
a. Pola manajemen umum organisasi/perusahaan
b. Penyediaan fasilitas pendukung.
c. Pengembangan sumber daya manusia.
d. Iklim kerja dan keselarasan hubungan
kerja.
e. Pola insentif.
2. Kualitas pelayanan eksternal
Mengenai kualitas layanan kepada pelanggan eksternal, kita boleh
berpendapat bahwa kualitas layanan ditentukan oleh beberapa faktor, antara
lain:
a. Yang berkaitan dengan penyedian jasa
1) Pola layanan dan tata cara pembentukan
jasa tertentu.
2) Pola layanan distribusi jasa.
3) Pola layanan penjualan jasa.
4) Pola layanan dalam penyampaian jasa.
b. Yang berkaitan dengan penyediaan barang.
1) Pola layanan dan pembuatan barang
berkualitas atau penyadiaan barang berkualitas.
2) Pola layanan pendistribusian barang.
3) Pola layanan penjualan barang.
4) Pola pelayanan purna jual
2.3.3
Prinsip-prinsip Kualitas Pelayanan
Pelayanan yang diberikan akan berkualitas jika setiap Pelayanan telah
dibekali Prinsip-prinsip pelayanan. Berikut ini akan dijelaskan prinsip-prinsip
pelayanan yang harus dipahami dan dimengerti oleh Pelayanan, seperti yang
diungkapkan oleh Kasmir (2009:279)
yaitu:
1.
Berpakaian
dan berpenampilan
Yaitu Petugas harus mengenakan baju dan celana yang sepadan dengan
kombianasi yang menarik
2.
Percaya
diri dan bersikap akrap, dan penuh dengan senyum
Yaitu Petugas harus memiliki rasa percaya diri
yang tinggi. Bersikap akrap dengan pelanggan seolah-olah sudah kenal lama
3.
Menyapa
dengan lembut
Yaitu Petugas
harus segera menyapa dan kalau sudah bertemu sebelumnya usaha dengan menyebut
namanya , namun jika belum kenal dapat menyapa dengan menyebut bapak/ibu apa
yang dapat kami bantu
4.
Tenang,
Sopan, Hormat, dan tekun
Yaitu Petugas
saat melayani pelanggan dalam keadaan tenang, tidak terburu-buru, sopan santun
dalam bersikap. Tujukan sikap menghormati palanggan, tekun mendengar, sekaligus
berusaha memahami keinginannya
5.
Berbicara
Yaitu Petugas dalam berkomunikasi dengan pelanggan
gunakanlah
bahasa Indonesia yang benar atau
bahasa daerah yang benar pula.
6.
Bergairah
Yaitu Petugas
menujukan pelayanan yang prima, seolah-olah me-
mang sangat tertarik dengan keinginan dan kemauan pelanggan.
7.
Jangan
menyela
Yaitu Pada
saat pelanggan sedang bicara, usahakan jangan menyela pembicara. Hindari
kalimat yang bersifat teguran atau sindiran
8.
Mampu
menyakini pelanggan
Yaitu Petugas
harus mampu menyakini pelanggan dengan argumen-argumen yang masuk akal.
9.
Jika
tidak sanggup?
Yaitu Jika
pertanyaan atau permasalahan yang tidak sanggup dija-wab atau diselesaikan oleh
petugas, usahakan meminta bantuan kepada petugas yang mampu
10. Bila belum dapat melayani?
Yaitu, Bila petugas belum dapat melayani, beritahukan
kapan akan dilayani.
2.3.4
Demensi Kualitas Pelayanan
Menurut Tjiptono (2002:70) mengemukakan bahwa dari sepuluh dimensi kualitas
pelayanan yang ada sebelumnya dapat dirangkum menjadi lima dimensi pokok,
kelima dimensi pokok tersebut meliputi :
1. Bukti
tampilan (Tangibles), meliputi
fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.
2. Kehandalan
(Reability), yakni kemampuan
memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dam memuaskan.
3. Daya
tanggap (Responsiveness), yaitu
keyakinan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan
tanggap.
4. Jaminan
(Assurance), mencangkup pengetahuaan,
kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf ; bebas
dari bahaya, resiko atau keragu-raguaan.
5. Empati
(Emphaty), meliputi kemudahan dalam
melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami
kebutuhan para pelanggannya.
Sedangkan Zeithaml,
dan Dwayne (2009:103) mendefinisikan bahwa : “Kualitas pelayanan adalah
sebuah fokus evaluasi yang merefleksikan persepsi pelanggan tetang kualitas
pelayanan reliabilitas, Jaminan, tanggung jawab, empety dan Fisik.”
Untuk keperluan penelitian ini, maka pengukuran
atas kualitas pelayanan PT. Telkom CO Langsa. Diukur berdasarkan lima dimensi
kualitas pelayanan diatas.
2.4
Konsep Kepuasan Pelanggan
Konsep
kepuasan pelanggan yaitu, Pelanggan merasa puas kalau harapan mereka terpenuhi,
dan merasa amat gembira kalau harapan mereka terlampaui. Pelanggan yang puas
cenderung tetap loyal lebih lama, membeli lebih banyak, kurang peka terhadap
perubahan harga dan pembicaraannya menguntungkan perusahaan. Dalam rangka
menciptakan kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan perusahaan harus
berkualitas. Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat bagi pelanggan. Ada delapan dimensi utama yang biasanya yang di gunakan
menurut, Widdawiyah (2010 : http://widdawiyah.blogspot.com/2010/03/8-dimensi-utama-kepuasan-konsumen.html)
1.
Kinerja
(performance): Karakteristik operasi
dasar dari suatu produk, misalnya kecepatan pengiriman barang, serta jaminan
keselamatan brg.
2.
Fitur
(features): karakteristik pelengkap
khusus yang dapat menambah Penga-
laman pemakaian produk, contohya minuman
gratis pada saat penerbangan.
3.
Reliabilitas,
yaitu probabilitas terjadinya kegagalan atau kerusakan produk dalam periode
waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan, semakin andal
produk bersangkutan.
4.
Konformasi (conformance),
yaitu tingkat kesesuaian produk dengan standar yang telah ditetapkan, misalnya
ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan kereta api.
5.
Daya Tahan (Durability),
yaitu jumlah pemakaian produk sebelum produk bersangkutan harus diganti.
Semakin besar frekuensi pemakaian normal yang dimungkinkan, semakin besar pula
daya tahan produk.
6.
Serviceablility,
yaitu kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta kompetensi dan
keramahtamahan staf layanan.
7.
Estetika
(aesthetics), menyangkut penampilan
produk yang bisa dinilai dengan panca indrea (rasa, bau, suara dst).
8.
Persepsi
terhadap kualitas (perceived quality),
yaitu kulitas yang dinilai berdasarkan reputasi penjual.misal BMW, SONY dll.
2.4.1
Pengertian Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari kinerja
yang dianggap ada pada produk dan harapan pelanggan. Untuk mendapatkan
keunggulan setiap perusahaan dituntut untuk mampu memuaskan pelanggannya,
sehingga komitmen managemen untuk meningkatkan kualitas layanan tercapai dengan
sempurna. Adapun yang dilakukan perusahaan untuk memuaskan pelanggan yaitu
dengan menghasilkan barang atau jasa yang bermutu. Hal ini dilakukan karena
konsumen ada yang merasa tidak puas terhadap barang atau jasa dari perusahaan
yang dikonsumsinya.
Menurut Kotler dan keller (2007:177), kepuasan pelanggan adalah: Perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan.
Jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan pelanggan puas, jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat
puas atau senang.
2.4.2
Membanggun Loyalitas Pelanggan
Istilah loyalitas sering kali diperdengarkan oleh pakar
pemasaran maupun praktisi bisnis, loyalitas merupakan konsep yang tampak mudah
dibicarakan dalam konteks sehari-hari, tetap menjadi lebih sulit ketika
dianalisis makananya. Dalam banyak definisi Hasan (2008: http://ilmumanajemenpemasaran.wordpress.com/2009/11/10/definisi-loya-litas-pelanggan/
) menjelaskan loyalitas sebagai berikut:
1.
sebagai konsep generic, loyalitas
merek menujukkan kecenderungan konsumen untuk membeli sebuah merek tertentu
dengan tingkat konsistensi yang tinggi.
2.
Sebagai konsep perilaku, pembelian
ulang kerap kali dihubungkan denga loyalitas merek (brand loyality).
Perbedaannya, bila loyalitas merek mencemirkan komitmen psikologis terhadap
merek tertentu,
2.4.3
Mengukur Tingkat Kepuasan Pelanggan
Dalam
mengukur tingkat kepuasan pelanggan Menurut Kotler & Keller (2007:179) menjelaskan, kaitan antara kepuasan pelanggan dan kesetiaan pelanggan tidak
bersifat proposional. Andaikata kepuasan pelanggan di beri peringkat dengan
skala satu sampai lima, pada level kepuasan pelanggan yang sangat rendah (level
satu) para pelanggan cenderung menjauh perusahaan dan menyebarkan cerita jelek
tetang perusahaan tersebut. Pada level dua sampai empat pelanggan agak puas,
tetapi masih merasa mudah beralih ketika tawaran yang lebih baik muncul. Pada
level lima, pelanggan cenderung membeli ulang dan bahkan menyampaikan cerita
pujian tetang perusahaan.
2.5
Pengertian Pelanggan
Menurut Kotler & Keller (2007:172) “Pelanggan adalah satu-satunya
‘Pusat laba’ sejati bagi perusahaan”
Berdasarkan
pendapat diatas pelanggan merupakan tujuan dan sasaran perusahaan dalam
beroprasi untuk mendapatkan pendapatan dan keuntungan demi keberlangsungan
hidup perusahaan.
2.5.1
Mempertahankan Pelanggan
Mempertahankan pelanggan memang lebih sulit
ketimbang mendapatkan pelanggan baru. Inilah tantangnnya, namun ini
adalah keniscayaan jika kita ingin usaha kita tetap eksis. Karena pelangan
loyal adalah kunci untuk
mempertahankan pelanggan dan mendapatkan keuntungan jangka panjang.
2.5.2
Membentuk
hubungan Pelangggan
Menurut Kotler & Keller (2007:193)
membedakan lima level investasi perusahaan dalam rangka membangun relasi
pelanggan seperti:
1. Pemasaran dasar : wiraniaga menjual
produknya begitu saja.
2. Pemasaran kreatif: wiraniaga menjual
produknya dan mendorong pe-
langgan untuk menghubunginya jika
mempunyai pertanyaan, komentar,
atau keluhan.
3. Pemasaran bertanggung jawab: wiraniaga
menelepon pelanggan untuk
menanyakan apakah produknya memenuhi harapan pelanggan, meminta saran perbaikan produk atau pelayanan dan
menanyakan apa saja kekecewaannya.
4. Pemasaran proaktif: wiraniaga menghubungi
pelanggan dari waktu ke waktu untuk
menyarankan pengggunaan produk
yang sudah diperbaiki atau produk baru.
5. Pemasaran kemitraan: perusahaan terus
bekerja sama dengan pelanggan untuk menemukan cara-cara penghematan bagi
pelanggan atau membantu pelanggan memperbaiki agar kinerjanya lebih baik.
2.6 Layanan
Internet Speedy Telkom
Untuk
menunjang kebutuhan pelanggannya, PT. Telkom menyediakan sarana Customer
Service Point yang salah satunya adalah Plasa Telkom yang bertugas untuk
menyediakan layanan jasa secara langsung bagi pelanggan maupun calon pelanggan
Telepon dan Speedy yang datang secara
langsung.
Muchtar(2009:http://580731.multiply.com/journal/item/31/Layanan_Speedy_Hadir_di_Bau-Bau?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem)
yaitu: Diferensiantor speedy dibandingkan akses internet
broadband lainnya adalah, kecepatan transfer data sampai dengan 1000 kbps untuk
download dan 128 kbps untuk upload. Speedy menggunakan saluran telepon
eksisting, akses internet dapat dilakukan bersamaan dengan penggunaan telepon,
pilihan paket yang beragam sesuai dengan kebutuhan serta harga yang relative
murah dibandingkan akses internet dedicated lainnya. Paket layanan speedy yang
tersedia adalah speedy cermat, speedy time base, speedy personal, speedy
professional, speedy office dan speedy warnet.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus